Sunday, December 18, 2005

Islam di Finlandia

Dicurigai karena Tampak "Asing"

Taiching: Bukan sentimen agama yang menyebabkan rasa curiga penduduk asli terhadap kaum Muslim, melainkan karena makin bertambahnya kaum imigran Muslim di negeri itu.


Meningkatnya fobia Islam barangkali sudah menjadi fenomena umum di hampir semua negara di Eropa, tak terkecuali Finlandia. Data yang dirangkum peneliti bidang ilmu agama di Universitas Helsinki, Tuomas Martikainen, menyebut, hampir separuh jumlah warga Finlandia masih menaruh curiga terhadap Islam. Hanya sebagian kecil saja, sekitar 10 persen, yang mempunyai pandangan yang toleran terhadap agama ini. ''Selebihnya memilih bersikap netral,'' ujarnya.

Namun ia menggarisbawahi satu poin penting. ''Semua pendapat mengenai Islam menjadi lebih terbuka ketimbang pada tahun 1990-an,'' ujarnya.

Martikainen menambahkan terkait opini mengenai Islam, hal itu tidak bisa dilepaskan dari situasi yang berkembang, terutama arus imigrasi ke negara tersebut. Diakuinya, topik satu ini merupakan sesuatu yang sensitif untuk dibicarakan di negara itu, bahkan kalangan politisi dan media sebisa mungkin akan menghindar untuk berbicara tentangnya.

Oleh karena itu, dia memperkirakan, tingginya angka kecurigaan terhadap Islam oleh warga Finlandia, lebih disebabkan fakta bahwa jumlah imigran Muslim terus bertambah sejak beberapa tahun belakangan.

Warga Finlandia cenderung memandang kaum Muslim seperti halnya penganut ajaran Saksi Jehovah, Mormon dan Scientologist. Sebagai perbandingan, warga memandang positif penganut gereja Lutheran dan Ortodok, serta sikap netral terhadap agama Katolik dan Pantekosta.

Dia memberi kesimpulan, bukan sentimen agama yang membuat sikap penduduk Finlandia terkesan curiga pada Muslim. ''Warga Finlandia akan bersikap positif terhadap komunitas yang secara penampilan, budaya, maupun karakteristik tidak berbeda jauh dengan mereka. Sebaliknya, sikap curiga serta prasangka kepada mereka yang memang punya ciri fisik dan budaya berbeda,'' ujarnya.

Atas sentimen negatif khususnya terhadap kaum imigran, Martikainen meminta agar kalangan politisi tidak lagi menganggap tabu pembicaraan seputar masalah imigrasi. Sebaliknya mereka perlu lebih terbuka serta berkomunikasi dengan banyak pihak terkait isu yang satu ini.

"Persoalan imigran nampak seperti isu sensitif. Saya harap para pemegang kekuasaan secara bertahap mulai memperhatikan masalah ini, terutama menyangkut pembicaraan tentang perbedaan agama yang pasti akan terus mengemuka. Di Finlandia sekarang ini, masalah tersebut memang belum terlalu serius," katanya.

Lebih jauh dia juga mengkritik sejumlah media ternama, semisal koran Helsingin Sanomat dan Turun Sanomat, serta juga jaringan radio dan televisi yang tidak mengangkat ke permukaan kritik-kritik yang muncul dari kalangan masyarakat menyangkut kebijakan keimigrasian.

Jumlah umat Muslim di Finlandia relatif kecil, yakni sekitar 30 ribu jiwa. Mayoritas mereka adalah imigran asal Somalia yang mencapai angka 25 persen. Adapun kaum Muslim pertama di negara ini adalah para pedagang Tatar, mereka telah ada sejak abad 19. Keturunan mereka kini mencakup angka 2,5 persen dari jumlah umat Muslim di sana.

Sebagian kecil umat Muslim juga berasal dari warga setempat. Jumlah mualaf ini sekitar 600-700 orang, kebanyakan mereka, jumlahnya sekitar 80 persen, adalah kaum wanita yang menikah dengan pria Muslim. n yus





*********************

untuk boks:
Kaum Tatar Pembuka Jalan

Kaum Tatar merupakan pemeluk Muslim yang pertama datang ke Finlandia tepatnya antara abad ke-18 dan 19. Setelah itu, diikuti oleh imigran pendatang asal Afrika, Timur Tengah, maupun Asia Selatan. Sampai kini, jumlah umat Islam telah mencapai sekitar 30 ribu jiwa.

Wakil Presiden Organisasi Umat Islam Finlandia, Alauddin Muhammad Ali Maher, menyatakan dari tahun ke tahun perkembangan Islam di negara itu cukup menggembirakan. Salah satunya ditandai dengan tetap eksisnya organisasi yang dia kelola yang tercatat adalah organisasi Islam tertua di sana.

"Organisasi ini sudah terdaftar resmi dan sekarang anggotanya sudah berjumlah 500 orang yang berasal dari berbagai tingkatan dan negara asal," jelasnya.

Aktivitas organisasi melingkupi seluruh wilayah di Finlandia, antara lain menangani pengelolaan masjid yang ada, baik di ibukota Helsinki, maupun di kota-kota lain. Tak hanya itu, kegiatan juga diarahkan dalam pengelolaan sekolah perawat, satu-satunya sekolah bagi anak-anak Muslim di Finlandia.

Pada bagian lain, Alauddin menambahkan bahwa organisasinya tidak melupakan bidang dakwah. Secara rutin, pihaknya menyebarkan informasi tentang keislaman kepada umat Muslim setempat, demikian juga program pengenalan Islam bagi warga non Muslim. Kebanyakan aktivitas semacam itu dilakukan dengan menggunakan media cetak bulanan dalam bahasa Finlandia.

Setiap tahun, pihaknya juga mengadakan acara seminar dan diskusi guna membahas berbagai hal menyangkut keislaman, penguatan iman, toleransi dan sebagainya. Tak jarang seminar tersebut dihadiri oleh para undangan berasal dari berbagai negara di dunia.

Kendati secara keseluruhan kehidupan umat Muslim cukup berkembang, akan tetapi menurut Alauddin, mereka masih membutuhkan sarana peribadatan (masjid), sekolah Islam, ruang pertemuan dan juga aula seminar. Begitu pula fasilitas perpustakaan dirasa sangat perlu.

Hingga saat ini, harapan itu belum dapat terealisasikan lantaran terbentur keterbatasan dana. Kecuali, ungkap dia, terkecuali ada bantuan dari pemerintah. Satu-satunya sarana yang dimiliki umat Islam di sana adalah sebidang lahan yang digunakan sebagai areal pemakaman yang merupakan sumbangan pemerintah. n yus/berbagai sumber


Republika, 2 Desember 2005

0 Comments:

Post a Comment

<< Home